Mengenal Uniknya Dialek Bahasa Jepang, Lebih dari Sekedar Cara Berbicara yang Berbeda

Dialek Bahasa Jepang

Bahasa Jepang, seperti bahasa lainnya, memiliki beragam dialek yang tersebar di seluruh negeri. Dialek-dialek ini memberikan warna yang unik pada bahasa Jepang, menciptakan perbedaan dalam kosakata, intonasi, dan pengucapan.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dunia dialek dalam bahasa Jepang dengan fokus pada dialek Kansai, Tokyo, dan Okinawa.

Apa Itu Dialek Bahasa Jepang?

Dialek bahasa Jepang atau yang dalam bahasa Jepang disebut "方言" (Hougen), adalah variasi regional dari bahasa Jepang standar (Hyoujungo).

Ini berarti bahwa bahasa Jepang yang kita kenal sebagai bahasa resmi Jepang adalah bentuk standar yang diajarkan di sekolah dan digunakan dalam media nasional.

Namun, ketika Anda berbicara dengan orang-orang dari berbagai wilayah di Jepang, Anda akan menemukan perbedaan dalam pengucapan, kosakata, dan tata bahasa yang mencirikan dialek setempat.

Sejarah Dialek Bahasa Jepang

Sejarah dialek bahasa Jepang mencerminkan perkembangan wilayah Jepang selama berabad-abad.

Jepang memiliki sejarah yang panjang, dan seiring waktu, komunikasi antar wilayah menjadi terbatas karena kondisi geografis yang berbeda dan isolasi alami. Inilah yang mengarah pada perkembangan beragam dialek di seluruh negeri.

Dialek-dialek ini pertama kali muncul pada zaman kuno Jepang, dan seiring dengan migrasi dan interaksi antar wilayah, dialek-dialek tersebut berkembang.

Pada periode Edo (1603-1868), Tokyo (yang saat itu dikenal sebagai Edo) menjadi pusat politik dan ekonomi Jepang, sehingga dialek Edo (Tokyo) menjadi lebih berpengaruh dan menjadi dasar bagi bahasa Jepang standar saat ini.

Karakteristik Dialek Bahasa Jepang


Karakteristik dialek bahasa Jepang adalah variasi-variasi bahasa yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sejarah, geografis, sosial, dan budaya. Dialek-dialek bahasa Jepang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok besar, seperti Jepang Timur, Jepang Barat, Kyushu, dan Kepulauan Ryukyu.

Dialek-dialek ini memiliki perbedaan dalam kosakata, tata bahasa, dan pengucapan. Beberapa contoh karakteristik dialek bahasa Jepang adalah sebagai berikut:
  • Dalam dialek Hokkaido (Jepang Timur), kata "apa" diucapkan sebagai "nan" atau "nani", sedangkan dalam dialek Tokyo (Jepang Timur), kata "apa" diucapkan sebagai "nani" atau "nan da".
  • Dalam dialek Kansai (Jepang Barat), kata "tidak" diucapkan sebagai "hen", sedangkan dalam dialek Tokyo (Jepang Timur), kata "tidak" diucapkan sebagai "iie" atau "iya".
  • Dalam dialek SatsugΕ« (Kyushu), kata "saya" diucapkan sebagai "wai", sedangkan dalam dialek Tokyo (Jepang Timur), kata "saya" diucapkan sebagai "watashi" atau "boku".

Setiap dialek bahasa Jepang memiliki karakteristik uniknya. Ini bisa termasuk perbedaan dalam pengucapan huruf, intonasi, penggunaan kata-kata lokal, dan tata bahasa yang khas.

Sebagai contoh, dialek Kansai sering kali lebih keras dalam pengucapannya, sedangkan dialek Tokyo lebih halus dan datar.

Beberapa Contoh Dialek Bahasa Jepang

1. Dialek Kansai

Dialek Kansai (ι–’θ₯ΏεΌ, Kansai-ben) atau Dialek Kinki (近畿方言, Kinki-hōgen) adalah sebutan untuk sebuah kelompok dialek bahasa Jepang di wilayah Kansai, Jepang. Wilayah Kansai meliputi enam prefektur, yaitu Osaka, Hyogo, Kyoto, Nara, Shiga, dan Wakayama.

Dialek Kansai memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari bahasa Jepang standar, yaitu:

Perbedaan pengucapan

Dialek Kansai memiliki beberapa perbedaan pengucapan dari bahasa Jepang standar, seperti:

  • Pengucapan /i/ menjadi /e/, misalnya: いい (ii, bagus) menjadi ええ (ee), γγ‚Œγ„ (kirei, cantik) menjadi べっぴん (beppin)
  • Pengucapan /u/ menjadi /o/, misalnya: うまい (umai, enak) menjadi うま (omo) すっぱい (suppai, asam) menjadi すっぱ (soppo)
  • Pengucapan /n/ menjadi /m/, misalnya: あん (an, manis) menjadi あんま (amma), こんにけわ (konnichiwa, selamat siang) menjadi こんばんは (konbanwa)
 

Perbedaan kata dan frasa

Dialek Kansai memiliki beberapa kata dan frasa yang berbeda dari bahasa Jepang standar, seperti:
  • Penggunaan kata "nan" untuk "watashi", misalnya: "watashi wa Tanaka desu" (nama saya Tanaka) menjadi "nan wa Tanaka desu"
  • Penggunaan kata "omae" untuk "anata", misalnya "anata wa doko kara kimashita ka?" (anda dari mana?) menjadi "omae wa doko kara kimashita ka?"
  • Penggunaan kata "san" untuk "sama, misalnya: "Sensei ni arigatou gozaimasu" (terima kasih kepada guru) menjadi "Sensei ni arigatou san"
 

Perbedaan partikel akhir

Dialek Kansai memiliki beberapa partikel akhir yang berbeda dari bahasa Jepang standar, seperti:
  • Penggunaan partikel "n" untuk partikel "desu", misalnya: "watashi wa Tanaka desu" (nama saya Tanaka) menjadi "watashi wa Tanaka n"
  • Penggunaan partikel "ga" untuk partikel "desu", misalnya: "sore wa hon desu" (itu adalah buku) menjadi "sore wa hon ga"
  • Penggunaan partikel "na" untuk partikel "desu", misalnya: "sore wa hon desu" (itu adalah buku) menjadi "sore wa hon na"

Dialek Kansai sering dianggap sebagai dialek yang ramah dan riang. Hal ini karena dialek Kansai sering menggunakan kata-kata dan frasa yang informal dan tidak formal.

Selain itu, dialek Kansai juga sering menggunakan partikel akhir yang menunjukkan emosi, seperti partikel "ne" untuk menunjukkan keramahan dan partikel "yo" untuk menunjukkan semangat.

Dialek Kansai adalah salah satu dialek yang paling populer di Jepang. Hal ini karena dialek Kansai sering digunakan dalam media, seperti film, televisi, dan musik. Selain itu, dialek Kansai juga sering digunakan dalam anime dan manga.


2. Dialek Kanto/Tokyo

Dialek Kanto adalah variasi bahasa Jepang yang digunakan di wilayah Kanto, Jepang. Wilayah Kanto meliputi Tokyo, Saitama, Chiba, Kanagawa, Gunma, Tochigi, dan Ibaraki.

Dialek Kanto dianggap sebagai bahasa Jepang standar, karena digunakan oleh media massa dan pendidikan.

Ciri khas dialek Kanto

  • Penggunaan "da" sebagai partikel akhir kalimat. Dalam bahasa Jepang standar, partikel akhir kalimat yang paling umum digunakan adalah "desu". Namun, dalam dialek Kanto, partikel akhir kalimat yang paling umum digunakan adalah "da".
  • Penggunaan "ne" sebagai partikel akhir kalimat. Partikel akhir kalimat "ne" dalam bahasa Jepang standar digunakan untuk menunjukkan keramahan atau kedekatan. Namun, dalam dialek Kanto, partikel akhir kalimat "ne" digunakan secara lebih umum, bahkan dalam percakapan formal.
  • Penggunaan "wa" sebagai partikel subjek. Dalam bahasa Jepang standar, partikel subjek yang paling umum digunakan adalah "ga". Namun, dalam dialek Kanto, partikel subjek yang paling umum digunakan adalah "wa".

Penggunaan kata-kata dan frasa yang khas.

Dialek Kanto memiliki beberapa kata dan frasa yang tidak digunakan dalam bahasa Jepang standar, seperti:
  • "Yatta!" (γ‚„γ£γŸ!) yang berarti "Berhasil!"
  • "Yoroshiku!" (γ‚ˆγ‚γ—γ!) yang berarti "Terima kasih!"
  • "Omedetou!" (γŠγ‚γ§γ¨γ†!) yang berarti "Selamat!"

Contoh kalimat dalam dialek Kanto

Bahasa Jepang Standar (標準θͺž) Dialek Kanto (閒東弁) Maksud
明ζ—₯γ―ε­¦ζ ‘γ«θ‘ŒγγΎγ™。 明ζ—₯γ―ε­¦ζ ‘θ‘Œγγ‚ Besok saya akan pergi ke sekolah.
ε½Όε₯³γ―ηΎŽγ—γ„γ§γ™。 ε½Όε₯³γ―γγ‚Œγ„γ γ‚ˆ。 Dia sangat cantik
γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†。 ァンキγƒ₯γƒΌ。 Terima kasih

Dialek Kanto telah menjadi semakin populer di Jepang dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini karena Tokyo, sebagai pusat ekonomi dan budaya Jepang, telah menjadi semakin berpengaruh di seluruh negeri.

3. Dialek Okinawa

Dialek Okinawa adalah variasi bahasa Jepang yang dituturkan di Pulau Okinawa dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Kepulauan Kerama, Pulau Kumejima, Tonaki, Aguni, Hamahigajima, Henzajima, Miyagijima, dan Ikeijima. 

Dialek Okinawa memiliki perbedaan yang signifikan dari bahasa Jepang standar, baik dalam kosakata, tata bahasa, maupun pengucapan.

Beberapa contoh perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kosakata: Dialek Okinawa memiliki banyak kosakata yang berbeda dari bahasa Jepang standar. Misalnya, kata untuk "halo" dalam bahasa Jepang standar adalah "konnichiwa", sedangkan dalam dialek Okinawa adalah "haisai".
  • Tata bahasa: Dialek Okinawa memiliki tata bahasa yang berbeda dari bahasa Jepang standar. Misalnya, dalam bahasa Jepang standar, kata kerja ditambahkan akhiran "-masu" untuk menunjukkan bentuk sopan, sedangkan dalam dialek Okinawa, kata kerja ditambahkan akhiran "-ya".
  • Pengucapan: Dialek Okinawa memiliki pengucapan yang berbeda dari bahasa Jepang standar. Misalnya, dalam bahasa Jepang standar, konsonan "r" diucapkan sebagai "l", sedangkan dalam dialek Okinawa, konsonan "r" diucapkan sebagai "d".

Dialek Okinawa memiliki dua dialek utama, yaitu dialek tengah (disebut juga dialek baku atau dialek Shuri-Naha) dan dialek selatan.

Dialek Shuri telah dibakukan sejak abad ke-15 semasa Kerajaan Ryukyu berada di bawah pemerintahan Raja Shō Shin (1477-1526).

Sejak tahun 2006 dialek Okinawa telah diakui sebagai bahasa yang terpisah dari bahasa Jepang standar. Namun, dialek ini masih sering dianggap sebagai dialek dari bahasa Jepang.


Pengaruh Dialek dalam Bahasa Jepang

Dialek dalam bahasa Jepang memiliki pengaruh yang signifikan pada budaya dan identitas regional. Mereka mencerminkan sejarah, tradisi, dan geografi wilayah tempat mereka digunakan.

Meskipun bahasa Jepang standar tetap menjadi bahasa resmi dan media nasional, penting untuk memahami dan menghargai keberagaman dialek dalam bahasa Jepang.

Kesimpulan

Dialek dalam bahasa Jepang adalah bagian integral dari kekayaan budaya Jepang. Dengan sejarah yang kaya, jenis-jenis yang beragam, karakteristik yang unik, dan pengaruh yang mendalam, dialek bahasa Jepang mencerminkan keanekaragaman wilayah dan budaya di Jepang.

Memahami dan menghormati perbedaan ini adalah langkah penting dalam memahami Jepang secara lebih mendalam.

Referensi

Miller, Roy Andrew. (1967). "The Japanese Language". University of Chicago Press.

Tsujimura, Natsuko. (2013). "An Introduction to Japanese Linguistics". Wiley-Blackwell.

Shibatani, Masayoshi. (1990). "The Languages of Japan". Cambridge University Press.

Artforia. "Mengenal Berbagai Macam Dialek Dalam Bahasa Jepang". Diakses 24 Oktober 2023

We-expats. "Memahami Dialek yang Dipakai Masyarakat Jepang". Diakses 24 Oktober 2023

Posting Komentar

Lagi Trending
Arsip